fokal.id – Ary Gemini menempuh pendidikan S1 di Universitas Gunadarma dengan jurusan ilmu komputer. Ia menyampaikan, “S1 saya itu Gunadarma di ilmu komputer… kuliah mulai 1991, lulus tahun 1995.” Selama masa kuliah, ia sudah bekerja sehingga terbiasa membagi waktu antara akademik dan profesional. Setelah lulus, ia justru merasa jenuh dengan dunia komputer dan memutuskan untuk beralih ke bidang lain yang lebih sesuai dengan minatnya, yaitu human resources, yang kemudian menjadi fondasi utama perjalanan kariernya hingga saat ini.
Perubahan arah tersebut mendorongnya melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 di Universitas Indonesia, khususnya di program pengembangan sumber daya manusia FISIP. Ia menjelaskan, “Saya akhirnya bisa ambil S2 pascasarjana pengembangan sumber daya manusia di FISIP UI,” sebagai bentuk penyesuaian dengan jalur karier barunya. Namun, perjalanan studi ini tidak berjalan singkat karena harus diimbangi dengan tuntutan pekerjaan di perusahaan multinasional yang semakin berkembang.
Ia mengungkapkan, “Masuk 1998, lulus 2003… 5 tahun master,” karena harus menjalani berbagai penugasan internasional, termasuk di Hong Kong dan Malaysia. Pengalaman bekerja sambil kuliah membuatnya memiliki perspektif praktis yang kuat dalam memahami manajemen sumber daya manusia, sekaligus memperkaya pendekatan akademisnya dengan pengalaman nyata didunia industri global.
Pengalaman internasional tersebut semakin diperdalam melalui program executive education di Inggris. Ia menekankan, “Itu adalah perluasan wawasan… begitu Anda terekspos dengan international education… sudut pandang kita jadi lebih fleksibel.” Interaksi dengan peserta dari berbagai negara memberikan pemahaman lintas budaya dan memperluas cara pandangnya dalam melihat tantangan organisasi secara global.
Menurutnya, dampak terbesar dari pengalaman tersebut adalah kemampuan berpikir lebih adaptif dan komprehensif. Ia mengatakan, “Kita tidak hanya melihat dari satu sudut pandang, tapi juga melihat secara holistik,” yang kemudian menjadi bekal penting dalam menghadapi dinamika bisnis internasional, termasuk dalam membangun strategi organisasi dan pengembangan talenta di berbagai negara.
Sejak tahun 2022, Ary bergabung dengan Kopi Kenangan sebagai Group Chief People & Culture Officer. Ia menjelaskan, “Saya join Kopi Kenangan itu tahun 2022… untuk membantu melakukan international expansion,” yang menandai perannya dalam fase penting pertumbuhan perusahaan dari skala nasional menuju global.
Kopi Kenangan sendiri berkembang sangat pesat, bahkan saat pandemi. Ia menjelaskan, “Dari yang cuma sekitar 200 toko di akhir 2019… kita grow sampai lebih dari 800 toko di akhir 2022,” dengan strategi membuka gerai dekat kawasan perumahan ketika mobilitas masyarakat terbatas. Pendekatan ini terbukti efektif karena menyesuaikan perilaku konsumen yang lebih banyak beraktivitas dari rumah, sekaligus memanfaatkan peluang harga sewa yang lebih rendah saat banyak bisnis lain tutup.
Dalam ekspansi global, Kopi Kenangan mengusung strategi berbeda dari brand kopi internasional pada umumnya, yaitu “hyperlocalization”. Ary menjelaskan bahwa produk tidak diseragamkan di semua negara, melainkan disesuaikan dengan selera lokal. Ia mencontohkan bahwa tingkat kemanisan minuman di Malaysia dan Singapura dibuat lebih rendah dibanding Indonesia, karena preferensi konsumen yang berbeda. Strategi ini memungkinkan Kopi Kenangan membangun basis pelanggan lokal, bukan hanya mengandalkan diaspora Indonesia, sekaligus memperkuat positioning sebagai brand global dengan sentuhan lokal.
Selain itu, ekspansi internasional dilakukan secara bertahap dan strategis, mencakup negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Filipina, India, hingga Australia, dengan rencana masuk ke Timur Tengah, Taiwan, dan pasar besar lainnya. Di sisi lain, perusahaan tetap menjadikan Indonesia sebagai basis utama dengan rencana ekspansi ke wilayah timur seperti NTT, Papua, dan Maluku, serta target agresif “one day one store” yang mencerminkan ambisi pertumbuhan.




