fokal.id – Adi Saputra (47), seorang pengemudi taksi Blue Bird yang lahir di Lampung, 25 Juli 1977 sedang bertugas di Stasiun Gambir, Jakarta, tidak pernah menduga bahwa salah satu penumpangnya akan meninggal dunia dalam perjalanan yang ia antarkan. Pagi itu, sekitar pukul 08.53 WIB, Adi sudah berada di urutan pertama antrean pengemudi saat seorang pria paruh baya datang dari arah belakang dan meminta diantar tanpa menyebutkan tujuan jelas.
Pria yang belakangan diketahui bernama Ramelan Supriyadi itu hanya meminta Adi untuk mengikuti arahannya selama perjalanan. Saat mereka tiba di persimpangan menuju Pejambon, Bapak Ramelan sempat bertanya mengenai rumah sakit terdekat, dan Adi menyarankan Rumah Sakit Cikini. Tanpa ragu, pria tersebut langsung meminta agar diantarkan ke sana secepat mungkin.
Dalam perjalanan menuju RS Cikini yang macet pada jam sibuk pagi hari, Adi mulai mendengar suara aneh seperti dengkuran dari kursi belakang. Ia menoleh ke kaca spion dan beberapa kali memanggil Bapak Ramelan, namun tidak mendapatkan respons. Sadar ada yang tidak beres, Adi memacu kendaraannya lebih cepat menuju Instalasi Gawat Darurat rumah sakit tersebut.
Setibanya di RS Cikini, Adi meminta bantuan satpam dan tim medis. Bapak Ramelan sempat diperiksa dan diberi tindakan resusitasi jantung selama sekitar 30 menit. Sayangnya, takdir berkata lain, nyawa Bapak Ramelan tidak tertolong. Adi yang sejak awal menemani merasa terpukul, terlebih karena tidak mengetahui informasi pribadi atau tujuan akhir sang penumpang.
Situasi menjadi lebih kompleks karena almarhum tidak membawa identitas atau informasi keluarga yang mudah diakses. Setelah dilakukan pengecekan oleh pihak rumah sakit, diketahui bahwa Bapak Ramelan pernah berobat di rumah sakit tersebut satu tahun lalu. Dari catatan itu ditemukan nomor kantor PTPN, tempat Bapak Ramelan bekerja, dan pihak rumah sakit pun menghubunginya.
Awalnya pihak PTPN mengira itu penipuan, namun setelah diverifikasi, mereka mengkonfirmasi bahwa Bapak Ramelan adalah pegawai mereka. Keluarga dihubungi dan akhirnya terhubung melalui video call. Tangis pecah ketika keluarga mengetahui kabar duka itu. Adi diminta tetap tinggal di rumah sakit hingga pihak keluarga tiba.
Polisi sempat melakukan pemeriksaan untuk memastikan tidak ada unsur kejahatan dalam kejadian tersebut. Setelah diperiksa, diketahui bahwa Bapak Ramelan memiliki riwayat penyakit jantung dan hipertensi. Pihak rumah sakit dan Blue Bird memastikan semua prosedur telah dijalankan sesuai SOP, dan tidak ditemukan indikasi mencurigakan.
Adi mengaku baru pertama kali mengalami kejadian seperti ini selama hampir dua tahun bekerja sebagai pengemudi taksi. Menurutnya, Blue Bird memang menekankan bahwa keselamatan penumpang adalah prioritas utama, dan tindakan mengantar hingga ke rumah sakit serta menunggu keluarga merupakan bentuk tanggung jawab dan empati yang dijunjung tinggi.
Kejadian serupa juga pernah dialami pengemudi Blue Bird lainnya di pool Halim, di mana seorang penumpang jatuh sakit usai melakukan check-up dan tidak membawa identitas. Dalam kasus tersebut, pihak rumah sakit berhasil mengenali wajah pasien dan melacak keluarganya. Semua itu membuktikan pentingnya kerja sama antara pengemudi, pool, dan pihak medis dalam situasi darurat.
Bagi Adi, peristiwa ini adalah pengingat akan kefanaan hidup. Ia merasa bersyukur bisa membantu hingga akhir hayat Bapak Ramelan, dan berdoa agar almarhum diterima di sisi Tuhan. “Saya hanya menjalankan tugas, tidak pernah terbayang bisa menemani seseorang hingga detik-detik terakhir hidupnya,” ucap Adi haru.




