Fokal.id
  • Home
  • FokalNews
  • FokalAdver
  • FokalFigur
  • FokalKuliner
  • FokalTravel
  • FokalLife
  • FokalTekno
No Result
View All Result
Fokal.id
No Result
View All Result

Fadli Zon Sebut Mitigasi Bencana Penting bagi Pelindungan Cagar Budaya yang Berkelanjutan

by Wisesa
15 April 2026
in FokalNews
Reading Time: 4 mins read
A A
Menteri Kebudayaan Fadli (keempat dari kiri) bersama para narasumber dan moderator seminar yang digelar Kementerian Kebudayaan serta Perisai Budaya Nusantara. Foto: Wisesa/FOKAL.ID

Menteri Kebudayaan Fadli (keempat dari kiri) bersama para narasumber dan moderator seminar yang digelar Kementerian Kebudayaan serta Perisai Budaya Nusantara. Foto: Wisesa/FOKAL.ID

30
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

FOKAL.ID, JAKARTA – Akibat berbagai bencana seperti banjir, longsor, gempa bumi, kebakaran, hingga perubahan iklim (climate change), hingga kelalaian manusia maka mitigasi bencana menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko sekaligus memastikan pelindungan jangka panjang bagi cagar budaya yang berkelanjutan.

Pandangan tersebut disampaikan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon di acara Seminar Nasional dan Pameran bertema Cagar Budaya Tangguh Bencana yang Berkelanjutan yang digelar di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Selasa (14/4/2026).

“Kegiatan seminar ini diharapkan bisa menghasilkan output dan cara pandang bersama dengan kementerian, lembaga lainnya, lembaga swadaya masyarakat, serta individu yang peduli dengan cagar budaya tentang apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi di tempat atau aset cagar budaya,” ujar Fadli yang menjadi Keynote Speaker dalam seminar yang digelar Kementerian Kebudayaan dan Perisai Budaya Nusantara tersebut.

Fadli Zon juga mengatakan bahwa pihaknya terus melakukan percepatan dalam pencatatan benda yang masuk dalam kategori cagar budaya di Indonesia, hal ini dilakukan sebagai upaya dalam memitigasi dampak bencana pada cagar budaya nasional.

“Ya, pertama data kita ini harus lengkap ya, teregistrasi seperti yang saya sampaikan barusan. Pencatatan cagar budaya kita ini harus dipercepat, harus akseleratif gitu ya,” kata Fadli.

Akselerasi pencatatan cagar budaya tersebut, kata dia, ditargetkan setidaknya mampu mencatat seribu koleksi. “Makanya saya targetkan lebih dari seribu termasuk koleksi-koleksi yang ada di museum nasional,” tuturnya.

Gedung A Museum Nasional di Jakarta mengalami kebakaran hebat pada 16 September 2023. Kala itu, sebanyak 902 koleksi terdampak kebakaran. Sebanyak 231 di antaranya dari galeri keramik, 49 dari galeri peradaban, 92 dari galeri perunggu, 225 dari galeri prasejarah, 180 dari galeri terakota, dan 125 dari ruang kebudayaan Indonesia.

Salah satu koleksi yang rusak parah akibat kebakaran adalah nekara perunggu. Koleksi yang berasal dari kebudayaan Dongson (1000 SM – abad 1 SM) ini mengalami kerusakan klasifikasi tinggi. Kobaran api kebakaran hampir memusnahkan Nekara yang dibuat lebih dari 2.000 tahun lalu tersebut.

Sebelumnya, Museum Bahari di Jakarta juga dilalap Si Jago Merah pada 16 Januari 2018. Belum lagi dua unit Rumah Gadang di Sumatera Barat, ludes terbakar pada 31 Agustus 2016 dan 23 Februari 2020.

Teranyar, 43 cagar budaya mengalami kerusakan akibat bencana hidrometeorologi yang terjadi di tiga provinsi di Pulau Sumatera, akhir November 2025.

Sementara Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan, Ahmad Mahendra, menyampaikan bahwa isu kebencanaan perlu ditempatkan sebagai bagian penting dalam agenda pemajuan kebudayaan.

“Selama ini, pendekatan terhadap cagar budaya cenderung berfokus pada pelestarian fisik. Padahal, berbagai peristiwa seperti kebakaran di Museum Bahari dan Museum Nasional Indonesia menunjukkan bahwa kita membutuhkan kerangka yang lebih komprehensif, termasuk dalam aspek mitigasi dan kesiapsiagaan,” kata Mahendra.

Menurutnya, penguatan Cagar Budaya Tangguh Bencana menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa pelindungan tidak bersifat reaktif, melainkan antisipatif dan berkelanjutan. “Kegiatan seminar ini diharapkan dapat mempertemukan perspektif kebijakan, praktik lapangan, dan pengetahuan teknis dalam satu ruang dialog yang produktif,” Mahendra menegaskan.

Sementara itu, Direktur Bina SDM, Lembaga, dan Pranata Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan, Syukur Asih Suprojo, menyampaikan bahwa penguatan kapasitas kelembagaan menjadi kunci dalam implementasi mitigasi bencana pada sektor kebudayaan.

“Upaya pelestarian tidak cukup hanya pada aspek pemeliharaan, tetapi harus diiringi dengan kesiapsiagaan lembaga budaya dalam menghadapi risiko bencana. Oleh karena itu, pendekatan berbasis Cagar Budaya Tangguh Bencana menjadi penting untuk memastikan keberlanjutan pengelolaan warisan budaya,” kata Syukur dalam sambutannya pada acara Seminar dan Pameran bertajuk “Cagar Budaya Tangguh Bencana yang Berkelanjutan” di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Selasa (14/4/2026).

Ia menekankan bahwa penyelenggaraan seminar nasional dan pameran ini merupakan bagian dari strategi penguatan ekosistem kebudayaan, dengan melibatkan komunitas, lembaga, serta para ahli lintas bidang.

 “Cagar budaya tidak berdiri sendiri, ia hidup dalam ekosistem sosial yang melibatkan lembaga, komunitas, dan sumber daya manusia. Karena itu, penguatan kapasitas menjadi aspek krusial agar upaya mitigasi dapat berjalan efektif,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa seminar dan pameran ini tidak hanya bertujuan untuk berbagi pengetahuan, tetapi juga mendorong terbentuknya jejaring kerja yang lebih solid antar pemangku kepentingan.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi titik awal penguatan kolaborasi dalam membangun sistem perlindungan cagar budaya yang lebih tangguh dan berkelanjutan.”

Mitigasi, Langkah Penting

Menurut Syukur, bencana kerap datang tanpa tanda, tetapi selalu meninggalkan jejak mendalam. Dalam konteks cagar budaya, yang terancam bukan hanya bangunan fisik, melainkan juga sejarah dan ingatan kolektif sebab Cagar Budaya memiliki sifat rapuh, unik, langka, terbatas, dan tidak terbarui.

“Oleh karena itu, melalui Sistem Manajemen Bencana Cagar Budaya atau Cagar Budaya Tangguh Bencana, upaya mitigasi menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko sekaligus memastikan pelindungan jangka panjang yang berkelanjutan,” kata Syukur.

Sementara itu, dalam sambutannya, Ketua Yayasan PBN Hasanuddin mengatakan bahwa secara geografis, Indonesia berada di wilayah Cincin Api Pasifik (Ring of Fire).

“Indonesia berada di wilayah Ring of Fire dengan 127 gunung aktif, yang menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah gunung aktif terbanyak di dunia. Gunung-gunung ini tersebar terutama di sepanjang Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku. Kondisi ini memicu Indonesia sangat rawan bencana geologi seperti gempa, erupsi vulkanik, dan tsunami. Kondisi ini pula yang menempatkan Indonesia sebagai negara kedua di dunia yang memiliki risiko bencana paling tinggi. Setiap tahun ribuan bencana terjadi di negeri ini,” kata Hasanuddin.

Dikatakan, saat ini terdata 4.924 cagar budaya di seluruh Indonesia yang terdiri atas benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan dengan mayoritas terdapat di Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sumatera Barat, dan Jawa Tengah. Sebanyak 313 di antaranya telah ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat nasional.

Sedangkan jumlah museum per Juni 2025 terdapat 454 unit yang tersebar di seluruh Indonesia dengan mayoritas terdapat di Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Jawa Tengah.

“Bagi Cagar Budaya, bencana sesungguhnya adalah ketika sejarah dan budaya hilang dari ingatan kolektif masyarakat karena berbagai aspek ketidakpedulian dan pengabaian, baik secara langsung maupun sistematis. Oleh karena itu, mari kita sama-sama peduli akan kelestarian cagar budaya agar anak cucu kita di masa mendatang bisa mendapatkan ingatan kolektif tentang masa lalu para pendahulunya,” pungkasnya. (Wisesa)

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • BERANDA
  • BUSINESS INQUIRY
  • REDAKSI

Copyrights Fokal.id - Forum Komunikasi Alumni Luar Negeri | All Rights Reserved

  • Home
  • FokalNews
  • FokalAdver
  • FokalFigur
  • FokalKuliner
  • FokalTravel
  • FokalLife
  • FokalTekno

Copyrights Fokal.id - Forum Komunikasi Alumni Luar Negeri | All Rights Reserved